Pertama, shalat dhuha memiliki nilai seperti nilai amalan sedekah yang diperlukan oleh 360 persendian tubuh manusia, dan orang yang melaksanakannya akan memperoleh ganjaran pahala sebanyak jumlah persendian itu.

“pada setiap tubuh manusia diciptakan 360 persendian dan seharusnya orang yang bersangkutan (pemilik sendi) bersedekah untuk setiap sendinya. Lalu, para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapa yang sanggup melakukannya ?’ Rasulullah saw. menjelaskan, ‘Membersihkan kotoran yang di masjid atau menyingkirikan sesuatu (yang dapat mencelakakan orang) dari jalan raya. Apabila ia tidak mampu, shalat dhuha dua rakaat dapat menggantikannya’. (HR. Ahmad bin Hanbal dan Abu Daud).

Kedua, shalat dhuha di awal hari, menjanjikan tercukupinya kebutuhan orang tersebut di akhir hari.

Na’im bin Hammar berkata, “ Aku mendengar Rasulullah saw. berkata : Allah berfirman, ‘ Wahai anak adam, janganlah sekali-kali engkau malas melakukan shalat empat rakaat pada pagi hari (shalat dhuha) karena akan kucukupi kebutuhanmu hingga sore hari’.” (HR Abu Daud).

Ketiga, shalat dhuha bisa membuat orang yang melaksanakannya (atas izin Allah) meraih keuntungan (ghanimah) dengan cepat.

Abdullah bin Amr bin Ash ra., ia berkata, “Rasulullah saw. mengirim sebuah pasukan perang. Rasulullah saw. berkata, ‘perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!’ mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan mereka peroleh serta cepatnya kembali (dari peperangan). Lalu Rasulullah saw. berkata, ‘Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungannya) dan cepat kembalinya ?’ mereka menjawab, ‘ Ya’. Rasul berkata lagi, ‘ Barangsiapa yang berwudhu kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat dhuha, dialah yang paling dekat tujuannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimah-nya, dan lebih cepat kembalinya.” (HR Ahmad)

Keempat, orang yang bersedia meluangkan waktunya untuk melaksanakan shalat dhuha 8 sampai 12 rakaat akan diberi ganjaran oleh Allah berupa sebuah rumah indah yang terbuat dari emas kelak di akhirat.

Dari Anas bin Malik ra., berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘ Siapa saja yang shalat dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya sebuah istana yang terbuat dari emas di surga’.” (HR Ibnu Majah).

Kelima, orang yang melaksanakan shalat dhuha mendapatkan pahala “sebesar pahala ibadah umrah”, seperti yang dijelaskan dalam hadits berikut.

Dari Abu Umamah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “ Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa yang keluar untuk melaksanakan shalat dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan umrah…” (Shahih al-Targhib : 673).

Keenam, shalat dhuha akan mengugurkan dosa-dosa orang yang senang melakukannya walaupun dosanya itu sebanyak buih di lautan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “ Barangsiapa yang menjaga shalat dhuha, maka dosa-dosanya diampuni walaupun dosanya itu sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi).

Ketujuh, keutamaan shalat dhuha berikutnya adalah bahwa orang yang senang melakukannya akan dijauhkan dari siksa api neraka pada hari Pembalasan (Kiamat) nanti.

“Barangsiapa melakukan shalat fajar, kemudian ia tetap duduk di tempat shalatnya sambil berzikir hingga matahari terbit kemudian ia melaksanakan shalat dhuha sebanyak dua rakaat, niscaya Allah SWT akan mengharamkan api neraka menyentuh atau membakar tubuhnya.” (HR Al-Baihaqi).

Kedelapan, keutamaan lain yang di sediakan bagi orang yang merutinkan shalat dhuha adalah bahwa akan dibuatkan pintu khusus di surga kelak, yakni pintu yang dinamakan pintu Dhuha (bab al-dhuha).

Dari Abu Hurairah ra., Nabi Muhammad saw. bersabda, “ Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab al-dhuha (pintu dhuha) dan pada hari kiamat nanti ada yang memanggil, ‘Di mana orang yang senantiasa mengerjakan shalat dhuha ? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang (rahmat)’.” (HR At-Tabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath, juz V, h.195).

Sumber referensi :
Alim, zezen zainal. 2012. The Ultimate Power of Shalat Dhuha. Jakarta: QultumMedia.