Skip to content

Sambirang Ahmadi Dorong Mandalika Jadi Penggerak Ekonomi NTB Sepanjang Tahun

Ketua Komisi III DPRD NTB Sambirang Ahmadi

MATARAM — Ketua Komisi III DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sambirang Ahmadi, mendorong agar dampak ekonomi MotoGP Mandalika tidak berhenti setelah ajang balap internasional tersebut berakhir. Menurutnya, kawasan Mandalika perlu dioptimalkan sebagai penggerak ekonomi daerah yang mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Sambirang menilai, keberhasilan MotoGP tidak cukup diukur dari jumlah penonton, tingkat hunian hotel, maupun besarnya transaksi selama penyelenggaraan. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana kegiatan tersebut mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang bertahan dalam jangka panjang.

MotoGP Mandalika 2026 tercatat menghadirkan lebih dari 157 ribu penonton. Kehadiran mereka memberikan dampak bagi berbagai sektor usaha, mulai dari perhotelan, restoran, transportasi, UMKM hingga jasa pariwisata lainnya.

Namun, Sambirang mengingatkan bahwa keramaian selama penyelenggaraan belum otomatis mencerminkan manfaat ekonomi yang sepenuhnya dirasakan masyarakat NTB.

“Kerugian finansial memang membutuhkan evaluasi, tetapi manfaat ekonomi suatu kegiatan tidak dapat dinilai hanya dari neraca perusahaan penyelenggara,” demikian pandangan Sambirang dalam opininya yang dipublikasikan NTBSatu, Rabu (14/10/2026).

Ia menilai, perdebatan mengenai untung-rugi penyelenggaraan MotoGP perlu ditempatkan secara proporsional. Selain mengevaluasi aspek finansial, pemerintah juga perlu memastikan bahwa penyelenggaraan ajang internasional tersebut mampu memperkuat perekonomian daerah.

Perkuat Keterlibatan Pelaku Usaha Lokal

Sambirang menjelaskan, salah satu persoalan yang perlu menjadi perhatian adalah kebocoran ekonomi atau economic leakage. Kondisi ini terjadi ketika sebagian besar kebutuhan usaha, seperti hotel dan restoran, dipasok dari luar daerah sehingga uang yang berputar tidak sepenuhnya dinikmati pelaku ekonomi lokal.

Karena itu, ia mendorong penguatan hubungan antara sektor pariwisata dengan sektor pertanian, perikanan, peternakan, industri pengolahan, dan UMKM di NTB.

Menurutnya, semakin besar penggunaan produk lokal untuk memenuhi kebutuhan hotel, restoran, dan penyelenggaraan kegiatan, semakin luas pula manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.

Keterlibatan pelaku usaha lokal juga perlu diarahkan pada kerja sama pasokan yang berkelanjutan, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta perluasan kesempatan usaha.

“Keberhasilan MotoGP tidak cukup diukur dari banyaknya transaksi selama penyelenggaraan, tetapi juga dari nilai tambah yang tercipta, tertahan, dan terus berkembang dalam perekonomian NTB,” tulisnya.

Mandalika Perlu Agenda Olahraga Sepanjang Tahun

Sambirang juga menyoroti pentingnya mengoptimalkan infrastruktur yang telah dibangun di kawasan Mandalika. Berdasarkan data yang dikutipnya dari ITDC, investasi kumulatif di kawasan tersebut hingga akhir 2025 mencapai sekitar Rp6,018 triliun, termasuk investasi dari berbagai pihak.

Besarnya investasi itu, menurutnya, harus diikuti dengan pemanfaatan kawasan secara produktif agar mampu menghasilkan aktivitas ekonomi secara berulang.

Ia mengusulkan agar Sirkuit Mandalika menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai kegiatan olahraga secara reguler, setidaknya sekali setiap tiga bulan. Kegiatan tersebut tidak harus selalu berkelas MotoGP, tetapi dapat berupa kejuaraan balap motor nasional, kompetisi tingkat Asia, balap mobil, kegiatan komunitas otomotif, maupun ajang olahraga lainnya.

Dengan agenda yang terencana, Mandalika berpotensi menghadirkan sedikitnya empat kegiatan olahraga dalam setahun di luar kegiatan lain yang memungkinkan.

Kegiatan tersebut diharapkan mendatangkan peserta, kru, sponsor, dan pengunjung dari luar daerah. Dampaknya, permintaan terhadap hotel, transportasi, restoran, tenaga kerja, dan berbagai jasa pendukung dapat berlangsung lebih konsisten.

Untuk mewujudkannya, Sambirang menilai diperlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi NTB, pemerintah kabupaten/kota, ITDC, Mandalika Grand Prix Association (MGPA), federasi olahraga, serta pelaku industri pariwisata.

Promosi dan diplomasi olahraga juga perlu diperkuat agar Mandalika semakin banyak masuk dalam kalender kejuaraan nasional maupun internasional.

Perluas Dampak ke Destinasi Wisata NTB

Selain menghidupkan kawasan Mandalika, Sambirang mendorong agar penyelenggaraan kegiatan internasional dimanfaatkan untuk memperluas kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi di NTB.

Wisatawan yang datang untuk menyaksikan MotoGP diharapkan memperpanjang masa tinggal dengan mengunjungi destinasi lain, seperti Senggigi, Gili Tramena, Sembalun, hingga sejumlah kawasan wisata di Pulau Sumbawa.

Strategi tersebut dinilai dapat meningkatkan permintaan terhadap akomodasi, transportasi, kuliner, dan jasa wisata di berbagai kabupaten/kota.

Dampak ekonomi juga akan semakin luas apabila kebutuhan wisatawan dan pelaku industri pariwisata dipenuhi oleh produk pertanian, perikanan, peternakan, serta industri lokal.

Dengan demikian, manfaat penyelenggaraan MotoGP tidak hanya terkonsentrasi di kawasan sirkuit, tetapi turut menggerakkan sektor produktif dan memperluas perputaran ekonomi di daerah.

Evaluasi Dampak Ekonomi Secara Terukur

Sambirang menegaskan pentingnya evaluasi pascapenyelenggaraan untuk mengetahui manfaat nyata MotoGP bagi perekonomian NTB.

Evaluasi tersebut, menurutnya, perlu mencakup lama tinggal wisatawan, nilai transaksi usaha lokal, penyerapan tenaga kerja, serta penerimaan fiskal yang secara wajar dapat dikaitkan dengan penyelenggaraan kegiatan.

Ia juga mengingatkan bahwa proyeksi dampak ekonomi nasional MotoGP 2026 yang mencapai Rp5 triliun tidak dapat serta-merta dipahami sebagai keuntungan bersih yang diterima daerah. Angka tersebut perlu dibaca sesuai dengan metodologi pengukuran dampak ekonomi yang digunakan.

Bagi Sambirang, tantangan NTB ke depan bukan sekadar mempertahankan MotoGP sebagai agenda internasional, melainkan memastikan kawasan Mandalika menjadi aset produktif yang mampu menciptakan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Dengan agenda kegiatan yang konsisten, keterlibatan usaha lokal, dan evaluasi yang terukur, Mandalika diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan pariwisata nasional, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi NTB.