
MATARAM — Ketua Komisi III DPRD NTB, Sambirang Ahmadi, M.Si, menegaskan bahwa Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) harus difungsikan sebagai ruang pembelajaran demokrasi dan perwujudan check and balance di kampus, bukan sekadar arena perebutan jabatan organisasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Sambirang saat menjadi pembicara dalam Studium General DPM Universitas Mataram bertema “DPM sebagai Sekolah Demokrasi: Dari Aktivis Kampus Menuju Pemimpin Bangsa”.
Dalam pemaparannya, Sambirang menyampaikan sejumlah poin penting terkait dinamika demokrasi, relasi kelembagaan, hingga etika kepemimpinan mahasiswa:
• Kampus sebagai Laboratorium Demokrasi: Kampus merupakan tempat mahasiswa belajar mendengar, menerima perbedaan, mengelola konflik, membangun konsensus, serta mempertanggungjawabkan kewenangan.
• Keberanian Mengkritik dan Keseimbangan Kekuasaan: Menanggapi dinamika organisasi, Sambirang menilai perbedaan pendapat adalah hal wajar. “Demokrasi memang berisik. Yang jauh lebih berbahaya adalah ketika organisasi menjadi terlalu sunyi karena tidak ada lagi orang yang berani mengkritik kekuasaan,” tegasnya.
• Relasi DPM dan BEM: DPM dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) bukanlah rival, melainkan mitra kritis. DPM bertindak sebagai penjaga keseimbangan kekuasaan yang harus berani bersikap objektif—menyetujui kebijakan yang benar, mengoreksi yang keliru, dan memberikan alternatif solusi.
• Integrasi Nilai Demokrasi Modern dan Prinsip Syura: Mengacu pada QS. Asy-Syura ayat 38, ia menekankan bahwa musyawarah (deliberasi) merupakan ruh utama sebelum pengambilan keputusan. Demokrasi mengajarkan bagaimana masyarakat tetap bersatu meski dalam ketidaksepakatan.
• Integritas dan ‘Politik Dampak’: Sambirang mendorong mahasiswa menggeser fokus dari ‘politik jabatan’ menjadi ‘politik dampak’. Jabatan organisasi merupakan amanah (QS. An-Nisa: 58) dan sarana pelayanan, bukan sekadar ruang mengejar posisi.
• Lima Kompetensi Pemimpin Masa Depan: Untuk menjadi calon pemimpin bangsa, mahasiswa diingatkan untuk membekali diri dengan lima kemampuan utama, yakni critical thinking, public speaking, negotiation, data literacy, dan integrity.
Sebagai penutup, Sambirang mengingatkan bahwa setiap jabatan memiliki batas waktu. Hal terpenting dalam kepemimpinan adalah legacy atau warisan gagasan, sistem yang baik, serta keteladanan yang ditinggalkan. Ia menitipkan empat keberanian bagi mahasiswa: berani berpikir, berani berbeda, berani mengawasi, dan berani melayani.



