Beranda PKS NTB TGH. Satriawan Kupas Kedalaman Makna Sabar dalam Kajian Riyadhus Sholihin

TGH. Satriawan Kupas Kedalaman Makna Sabar dalam Kajian Riyadhus Sholihin

0
TGH. Satriawan, Lc.MA

MATARAM – Mengisi momentum bulan suci Ramadhan, DPW PKS Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar kajian rutin kitab kuning yang menghadirkan ulama sekaligus tokoh pendidik dan Politik, TGH. Satriawan, Lc., M.A. Dalam kajian terbaru yang membedah Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi, beliau menekankan bahwa sabar bukan sekadar sikap pasif, melainkan kekuatan aktif dalam mengendalikan diri.


Dalam pemaparannya di hadapan jamaah, TGH. Satriawan menjelaskan bahwa secara bahasa, sabar berakar dari kata al-habsu yang berarti menahan. Namun, dalam implementasi iman, sabar memiliki dimensi yang jauh lebih luas.

“Sabar itu bukan berarti diam tertindas. Sabar adalah kemampuan jiwa menahan diri dari kegelisahan, menahan lisan dari keluh kesah yang tidak produktif, dan menjaga anggota tubuh dari tindakan yang dilarang saat ujian menerpa,” ujarnya.


Lebih lanjut, TGH. Satriawan merinci tiga klasifikasi sabar yang menjadi pondasi seorang Muslim dalam menjalani kehidupan:

Sabar dalam Ketaatan: Konsistensi dalam menjalankan perintah Allah meskipun dalam kondisi sulit.

Sabar dari Maksiat: Kekuatan untuk mengerem hawa nafsu di tengah godaan zaman yang semakin terbuka.

Sabar atas Takdir: Keteguhan hati saat menghadapi musibah atau ketentuan Allah yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi.

Beliau menggarisbawahi sebuah hadits penting bahwa kualitas sabar yang sesungguhnya diuji pada detik pertama sebuah musibah terjadi. “Sabar itu ada pada hentakan pertama. Di situlah letak perbedaan antara orang yang beriman dengan yang hanya mengikuti emosi,” tegasnya.


Sebagai tokoh yang aktif di ranah publik, TGH. Satriawan juga mengaitkan nilai sabar dengan kehidupan sosial-politik di NTB. Menurutnya, sabar dalam menghadapi lisan dan perilaku manusia adalah tingkatan yang sangat tinggi dalam dakwah.

Ia mengutip hadits yang menyatakan bahwa seorang Muslim yang berbaur dengan masyarakat dan bersabar atas gangguan mereka, jauh lebih utama dibandingkan mereka yang mengasingkan diri karena takut akan gesekan sosial.

“Sabar digambarkan dalam hadits sebagai Dhiya atau cahaya yang memiliki panas. Ini menunjukkan bahwa proses bersabar memang memerlukan perjuangan dan energi yang besar, namun hasilnya memberikan penerang bagi jalan hidup kita,” tambahnya.


Kajian yang berlangsung interaktif ini diakhiri dengan pesan bahwa pahala bagi orang-orang yang sabar bersifat tanpa batas (bi ghairi hisab). Melalui kajian ini, PKS NTB berharap masyarakat tidak hanya menjalankan ibadah ritual selama Ramadhan, tetapi juga memperkuat karakter dan mentalitas melalui pendalaman kitab-kitab klasik yang relevan dengan tantangan zaman.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Exit mobile version